Kamis, April 18, 2024

Cerita Saffana, Anak Penjual Jahe yang Masuk FSRD ITB dengan Segudang Prestasi

Saffana Nur Astutiningtyas, siswi SMA Negeri 8 Pekanbaru Provinsi Riau berhasil meraih medali emas di ajang International High Schools Arts Festival tahun 2022.

Siswi yang tahun ini menjadi mahasiswi semester I di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) ini merupakan peraih medali emas bidang seni poster Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) pada 2021.

Saffa sangat bangga dan bahagia bisa memperoleh medali emas di ajang FLS2N ini setelah mengalami kegagalan di beberapa kompetisi yang diikutinya.

Dari FLS2N ini, berbagai tiket emas berhasil diperolehnya menuju peluang-peluang lainnya seperti bisa masuk ke kampus impian melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri serta mengikuti ajang kompetisi internasional lainnya.

Dari FLS2N ini juga, Saffa lebih percaya diri dan berhasil meraih juara di ajang kompetisi lainnya seperti juara 1 lomba desain poster dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau 2021, juara 1 lomba doodle dari Asta Homeware 2022, juara 1 lomba Ilustrasi dari Ruangguru 2022, dan 200 karya terbaik lomba doodle dari Executive 2022.

Suka Seni Sejak Kecil Remaja asal Riau ini telah menyukai seni sejak kecil.

Awalnya, orang tua mengarahkannya ke dunia seni sejak TK.

Kecintaannya dan bakatnya terhadap seni baru disadarinya sejak kelas 3 SD.

Sejak itu pula, ia bertekad untuk bisa masuk kuliah di FSRD ITB.

Tidak disangka, impiannya sejak dini itu berhasil konsisten diperjuangkannya hingga kini berhasil resmi menjadi mahasiswi FSRD ITB.

Tentu tidak mudah baginya untuk bisa sampai di titik ini.

Berbagai kekalahan dalam kompetisi sudah dirasakannya.

Namun, mahasiswi berusia 18 tahun ini selalu bangkit dan berusaha lagi untuk terus menunjukkan yang terbaik.

“Sedihnya dirasakan saja kalau kalah, kemudian beraktivitas main atau menggambar lagi,” kata Saffa dilansir dari laman Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi pada Senin, 12 September 2022.

Alami Kendala dan Sempat Gagal Mahasiswi ITB ini juga mengalami banyak kendala dalam mengikuti berbagai lomba seni saat masih duduk di bangku sekolah.

Kendala tersebut seperti harus membagi waktu antara membuat karya dan tugas sekolah yang terkadang membuat pikirannya menjadi bercabang.

Selain itu, beberapa lomba memberikan waktu yang sedikit.

Bahkan, beberapa persyaratan lomba yang diikutinya membuatnya harus memberikan waktu lebih.

Sebelum meraih medali emas di ajang FLS2N 2021, Saffa sebelumnya pernah gagal di tingkat Provinsi FLS2N tahun 2020.

Namun, ia bertekad untuk terus mencoba dan tidak menyerah.

Hingga pada 2021, kegigihan membuatnya berhasil masuk ke tahap nasional dan harus melewati tantangan di tahap final.

Para finalis diberikan 36 jam untuk menghasilkan karya seni poster yang sesuai dengan tema.

Saat itu, ia membutuhkan waktu yang lebih untuk mencari ide, sketsa, warna, dan tulisan yang pas.

Sebanyak 18 jam sisanya digunakannya untuk rendering (mewarnai, finishing, tulisan, atur gelap terang, dan lain sebagainya).

Waktu tidur pun tak luput dikorbankannya untuk membuat karya luar biasa ini.

Perjuangannya membuahkan hasil yang sangat baik.

Inti lukisan yang dihasilkan adalah “Bangkit dari Kelumpuhan, Tunjukkan Pada Dunia Siapa Kita”.

Ia menggambarkannya dalam format bahtera kapal.

“Pandemi ini bagaikan badai ya, Indonesia ini negara yang besar yang saat pandemi ini bagaikan bahtera yang terombang-ambing, tapi kita sudah mulai keluar dari badai itu menuju ke arah yang lebih cerah,” kata Saffa Lukisan ini juga dikirim ke ajang International High Schools Arts Festival yang diselenggarakan oleh International Foundation for Arts and Culture (IFAC) pada 10 – 21 Agustus 2022 di Tokyo, Jepang.

Ajang ini diikuti oleh 13 negara untuk kategori poster dan lukisan.

Karya poster Saffana ini berhasil memperoleh medali emas.

Didukung Orang Tua Prestasi Saffa ini tentu tidak luput dari dukungan orang tuanya.

Ibunya yang merupakan ibu rumah tangga yang sekaligus berjualan jahe kecil-kecilan dan ayahnya yang merupakan pekerja honorer di salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara.

Mereka selalu mendukung Saffa dan memberikan masukan dan pertimbangan.

Ke depan, Saffa ingin untuk menjadi pebisnis di bidang seni.

Mahasiswi yang suka menggambar ini juga ingin merealisasikan tujuannya untuk membuat pendidikan menjadi lebih berwarna.

Ia sangat ingin untuk menggabungkan pendidikan yang terkadang menjemukan dengan seni yang menyenangkan.

“Jadi, kalau melihat dari sebuah peluang, usahakan untuk memberikan 100 persen terbaik dari dirimu, kadang memang enggak gol, tapi tetep saja lakukan terbaik,” tutur Saffa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *