Kamis, April 18, 2024

Emiten Cina Delisting dari Bursa Amerika, Saham Alibaba Merosot

Sejumlah emiten Cina mengalami pelemahan saham pada Jumat, 12 Agustus 2022, di Bursa Amerika Serikat.

Pelemahan terjadi setelah beberapa emiten mengumumkan rencana delisting dari Wall Street.

Rencana delisting tersebut dipicu ketegangan soal audit perusahaan.

Adapun saham emiten yang telah mengumumkan akan delisting, seperti China Life Insurance Co., PetroChina Co., dan China Petroleum & Chemical Corp.

(Sinopec), langsung anjlok 3 persen.

Pelemahan ini turut menyeret penurunan terbesar di Nasdaq Golden Dragon China Index yang merosot sampai 2 persen.

Pengumuman delisting pun ikut mendorong saham lain asal Cina tersungkur.

Alibaba Group Holding Ltd., Pinduoduo Inc., dan JD.com Inc., misalnya, mengalami penurunan saham lebih dari 1 persen.

Alibaba baru-baru ini mengatakan akan melakukan pencatatan saham di papan utama bursa saham Hong Kong.

Direktur investasi GAM Investment Management Jian Shi Cortesi mengatakan banyak perusahaan Cina yang akan memindahkan listing ke negara lain.

“Kami memperkirakan lebih banyak perusahaan Cina secara suka rela delisting dari Amerika atau memindahkan listing utama mereka ke Hong Kong,” ucap Jian Shi.

Risiko delisting ini membebani American Dopository Receipt (ADR) China atau kepemilikan saham perusahaan di luar Amerika.

Sebelumnya, sekitar 200 perusahaan Cina, termasuk Alibaba dan Baidu Inc., kemungkinan akan menghadapi ancaman delisting karena regulator Amerika tidak dapat memverifikasi audit keuangan mereka.

Rencana itu berawal dari selisih kedua negara akibat Amerika mengizinkan regulator mereka mengakses kertas kerja audit perusahaan Cina.

Dalam hal ini, negosiator belum mencapai kesepakatan.

Analis pasar Saxo Markets, Redmond Wong, mengatakan Pemerintah Cina ragu-ragu memberikan data BUMN kepada regulator asing.

Raksasa transportasi online Cina, Didi Global Inc., mengumumkan rencana untuk delisting dari New York Stock Exchange pada Desember di bawah tekanan dari regulator negara tersebut yang khawatir data perusahaan besar akan terkespose oleh pengaruh asing.

BISNIS Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *