Kamis, April 18, 2024

Gempa Megathrust, Begini Tanda dan Dampak Merusaknya

Gempa kembali mengguncang Mentawai dengan kekuatan lebih dari M5,0 sejak tengah malam tadi, yaitu memiliki magnitudo 6,4.

Dalam catatan Tempo, data awal Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukan gempa megathrust yang terjadi pada hari Senin, 29 Agustus 2022, pukul 10.29 WIB ini berada di titik lokasi 0.99 Lintang Selatan dan 98.53 Bujur Timur.

Sementara Plt.

Kepala Pusat BMKG, Daryono, mengatakan wilayah Pantai Barat Laut Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat diguncang gempa tektonik.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng segmen Megathrust Mentawai-Siberut,” katanya.

Lantas, apa itu gempa dengan segmentasi megathrust yang dirasakan di beberapa bagian daerah Sumatra ini? Berdasarkan jurnal berjudul Pemodelan Segmentasi Mentawai-Pagai: Studi Kasus Gempa Megathrust di Indonesia yang terbit pada 2020, gempa megathrust merupakan kondisi gempat yang terjadi pada zona awal penunjaman atau subduksi.

Sementara melansir dari artikel berjudul Questions and Answers on Megathrust Earthquakes dalam earthquakescanada.nrcan.gc.ca, gempa ini akan terjadi ketika suatu wilayah di lempeng tektonik bumi terdorong di bawah yang lainnya.

Lalu lempeng akan terus bergerak dari satu sama lainnya sehinffa membuatnya saling bersinggungan.

Hal ini lalu membuat adanya penumpukan regangan melebihi gesekan antara dua lempeng dan gempa megathrust besar pun akan terjadi.

Perlu diketahui, gempa megathrust terbilang dapat merusakan bangunan di suatu area ketika mencapai magnitude 7 sampai 8.

Durasi dan guncangan untuk gempa megathrust juga akan jauh lebih lama daripada umumnya, bahkan dapat mencapai beberapa menit.

Selain itu gempa ini mampu menyebabkan gerakan vertikal besar di dasar laut, lalu memindahkan sejumlah besar air yang bergerak menjauh dari gerakan bawah laut sebagai tsunami.

Adapun hal yang menandakan bahwa telah terjadinya gempa bumi megathrust, salah satunya akan membunuh vegetasi yang dapat dihitung usianya.

Selain itu, gempa jenis ini juga menyebabkan tanah longsor bawah laut dari landas kontinen menuju lebih dalam.

Endapan longsor ini dapat dikenali dengan mengambil sampel inti yang diambil langsung dari dasar laut.

Namun, dengan pengukuran geodesi memakai satelit pemosisian global dan pengukuran jarak jauh, maka perubahan bentuk kerak dalam pola gempa bumi megathrust ini dapat diprediksi dan dideteksi.

Gempa megathrust terbilang tidak terjadi terlalu sering, namun tidak juga teratur kapannya akan terjadi.

Sedangkan untuk melihat besaran gempa ini, diperkirakan dapat berkekuatan mencapai magnitude 9.

Misalnya, gempa megathrust di Chili pada 1960 berkekuatan magnitude 9,5, dan ada pernah terjadi di Alaska pada tahun 1964 berkekuatan 9,2.

Di Indonesia, masih terdapat segmentasi megathrust aktif yang berpotensi menimbulkan gempa besar hingga tsunami.

Jumlahnya hingga saat sudah mencapai 16 titik, salah satunya adalah di daerah Mentawai-Siberut.

Menilik sejarahnya, daerah Sumaetra memang memiliki intensitasi gempa yang tinggi.

Hal ini dibuktikan dari dua gempa yang pernah terjadi, yaitu pada tahun 1797 dan 1833.

Hal ini membuat adanya celah yang ada di Mentawai.

Lalu celah ini juga kembali aktif ketika ada dorongan dari tsunami megathrust segmentasi Sumatera Andaman atau Aceh andaman pada 2004.

Itu sebabnya, tak dipungkiri kerap terjadi belakangan ini.

FATHUR RACHMAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *