Minggu, Mei 19, 2024

Top 3 Tekno Berita Kemarin: Beasiswa S1 di Oxford dan Cambridge, White Hacker Indonesia

Top 3 Tekno Berita Kemarin, Sabtu 17 September 2022, dimulai dari artikel informasi beasiswa penuh S1 di Oxford-Cambridge 2023.

Sumbernya adalah Jardine Foundation (Jardine Matheson Group) yang melalui Jardine Scholarship Awards 2023 memberikan beasiswa tersebut untuk beberapa negara, yakni Kamboja, Cina, Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Berita terpopuler kedua adalah profil pakar keamanan siber Jim Geovedi yang dikenal sebagai white hacker-nya Indonesia.

Nama Geovedi belakangan disebut-sebut setelah munculnya pemberitaan terkait pembobolan data pemerintah dan sejumlah perusahaan oleh peretas Bjorka.

Terakhir, artikel yang menjelaskan bagaimana fitur crash detection bekerja pada iPhone 14.

Ini adalah satu dari dua fitur baru di seri iPhone terbaru yang diharap Apple tidak pernah digunakan pemiliknya.

Berikut Top 3 Tekno Berita Kemarin, Sabtu 17 September 2022, selengkapnya, Jardine Foundation (Jardine Matheson Group) melalui Jardine Scholarship Awards 2023 memberikan beasiswa di beberapa negara-negara Asia untuk berkuliah di University of Oxford atau University of Cambridge.

Salah satu yang berkesempatan untuk mengikuti program beasiswa tersebut adalah Indonesia.

Program ini hanya dibuka untuk beberapa negara, yakni Kamboja, Cina, Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Yayasan yang telah berdiri sejak 1982 ini bertujuan untuk mengembangkan pemimpin masa depan yang ingin memberikan kontribusi kembali kepada komunitas mereka.

Hingga saat ini Jardine Foundation telah memberikan 400 beasiswa.

Selain memberikan biaya kuliah penuh untuk program S1, Jardine Scholarship juga memberikan tunjangan tahunan untuk biaya makan, tempat tinggal, biaya buku, peralatan, biaya insidentil, biaya tambahan kesehatan imigrasi Inggris (UK Immigration Health Surcharge), serta biaya penggantian tiket pesawat kelas ekonomi saat keberangkatan dan kepulangan saat program beasiswa berakhir.

Baru-baru ini nama pakar keamanan siber Jim Geovedi kerap disebut-sebut setelah munculnya pemberitaan terkait pembobolan data pemerintah oleh peretas Bjorka.

Geovedi, yang dikenal sebagai white hacker-nya Indonesia ini, dikaitkan dan dibandingkan dengan sosok hacker Bjorka yang belakangan viral.

Lalu, siapa sebenarnya sosok Jim Geovedi yang disebut memiliki reputasi kelas dunia? Sosok Jim Geovedi pernah viral setelah mengunggah video cara meretas satelit luar angkasa pada 2009.

Pria kelahiran 1979 itu pun mengaku berhasil mengakses serta mengontrol trafik internet di Indonesia, dan bahkan memanipulasi data keuangan.

Namun, sekarang Jim memutuskan pensiun sebagai black hat hacker atau peretas.

Kini Geovedi memilih menjadi white hacker dan menjalankan perusahaan konsultan jasa sistem keamanan siber di London, Inggris.

Sebelum menjadi seorang hacker, Geovedi hanyalah seorang lulusan Sekolah Menengah Atas atau SMA.

Dia tamat dari SMA pada 1998-1999 dan menjalani kehidupan yang keras sebagai seniman grafis di jalanan Bandar Lampung, Lampung.

Kehidupan Geovedi mulai berubah setelah seorang pendeta mengenalkannya pada komputer dan internet.

Semenjak itu, dia belajar secara otodidak melalui ruang obrolan para peretas ternama dunia.

Dalam iklan yang telah dibuatnya untuk iPhone 14 Pro, Apple menyertakan Crash Detection di antara sejumlah fitur baru yang memberi kekuatan pada perangkat ini.

Crash Detection disebutkan sebagai fitur keselamatan baru yang vital.

“Fitur yang mampu mendeteksi kejadian tabrakan kendaraan yang parah dan secara otomatis mengaktifkan panggilan untuk mendapatkan pertolongan, bahkan ketika penggunanya tak dapat melakukan itu,” kata Apple dalam video iklan tersebut.

Dengan akselerometer dual-core, barometer dan sensor-sensor lainnya yang baru, Apple menerangkan model iPhone 14 Pro–juga model vanilla, iPhone 14–dapat mendeteksi kecelakaan kendaraan yang parah yang dialami penggunanya.

Fitur secara otomatis menghubungi layanan darurat jika penggunanya itu tak memberikan respons dalam 20 detik sejak deteksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *